Feeds:
Posts
Comments

Sebuah kisah bercerita tentang seorang guru yang berambisi menjadi kepala sekolah. Setahun ia beradaptasi dengan pekerjaannya yang baru sebagai tenaga pengajar. Selanjutnya ia terbenam dalam rutinitas sehari-hari.

Beberapa tahun kemudian ia merasa bahwa waktu yang dilaluinya selama itu cukup memadai untuk bekal mencari pekerjaan sebagai kepala sekolah.

Mulailah ia melamar dari tahun ke tahun setiap kali ia mendengar lowongan untuk kepala sekolah terbuka di kotanya. Namun, setiap kali melamar, ia gagal. Sudah 15 tahun ia menjadi guru dan sudah lebih dari 8 kali ia melamar.

Kenyataan ini membuatnya gusar: seorang guru lain yang menurutnya hanya berpengalaman kerja tujuh tahun, berhasil menduduki posisi yang ia dambakan.

Dengan marah, ia menelpon ketua yayasan sekolah yang bersangkutan, “Aneh sekali kalau Anda menerima orang tersebut, bukan saya,” ia mencemooh. ” Saya lebih senior, Pengalaman saya 15 tahun, sedangkan ia hanya tujuh tahun!!

Kualitas bukan kuantitas“Oh Anda keliru,” Ketua Yayasan itu menanggapi, “Ia berpengalaman tujuh tahun. Kalau Anda, hanya satu tahun yang diulang sebanyak 15 kali”.
Hidup tidak diukur dari lamanya, tetapi dari isinya.

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mazmur 90:12).

Nilai UTS

Sore itu beberapa tahun yang lalu, aku sedang asyik nonton pertandingan sepakbola. Final! pasti seru pertandingan itu.

Sampai pada suatu adegan di mana seorang penyerang mendapat umpan dari teman setimnya. Dengan manis dia menghentikan bola yang melaju deras itu, menjaganya dari sergapan lawan. Lalu dengan cantik ia membelokkan bola sekaligus mengecoh penjaga gawang. Ia hanya berhadapan dengan gawang sekitar 12 x 2.25 meter yang kosong melompong setelah ditinggal tuannya.

Penonton sudah bersorak, “Gol!!” Waktu seakan berhenti sejenak. Penyerang itu menendangnya. Dug! Jantungku berdetak lebih keras saat menyadari tendangannya hanya melambung tipis. Aku berteriak, “Goblok!!! Begitu saja tidak gol”. Continue Reading »

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

Pancasila Sebagai Ideologi FINALE

Paham WAWASAN NUSANTARA EDIT

TOLONG JOIN MILIS,,, NTAR SEMUA FILE FILE KULIAH BAKAL DIUPLOAD KE MILIS MASING MASING…

Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.

Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari.

Continue Reading »

Pelita

Pelita – Pengenalan Lingkungan dan Organisasi Teknik Kimia

File yang harus dibawa:  surat keterangan sakit 2008

Lampirkan surat keterangan sakit dari dokter…

Seorang ibu dari seorang anak berumur 9 tahun, menerima telepon siang hari itu. Telepon dari guru sekolah anak laki-lakinya.

“Ibu, sesuatu yang tidak biasa terjadi hari ini di kelas anakmu. Anak laki-lakimu mengerjakan sesuatu yang sangat mengejutkan, jadi saya berpikir Anda seharusnya segera tahu tentang hal ini.”

Sang ibu gelisah dan gugup ketika menerima telepon. “Apa yang terjadi?”, sang Ibu bertanya-tanya.

Guru itu meneruskan, “Saya telah mengajar selama bertahun-tahun dan belum pernah terjadi sesuatu seperti ini hingga sekarang. Pagi ini saya mengajar pelajaran ‘Menulis Kreatif’. Seperti biasanya, saya bercerita tentang Semut dan Belalang. Continue Reading »

I am sorry…

Berhubung isi hard disc gw yang di drive D sebesar 110GB ilang semua, gw belum punya artikel lagi buat diisi kesini…
maaf ya kalo jarang update blog lagi…
nanti kalo ada artikel bagus, gw upload kok…

Satu Senar

Niccolo Paganini, seorang pemain biola yang terkenal di abad 19, memainkan konser untuk para pemujanya yang memenuhi ruangan. Dia bermain biola dengan diiringi orkestra penuh.

Tiba-tiba salah satu senar biolanya putus. Keringat dingin mulai membasahi dahinya tapi dia meneruskan memainkan lagunya. Kejadian yang sangat mengejutkan senar biolanya yang lain pun putus satu persatu hanya meninggalkan satu senar, tetapi dia tetap main. Ketika para penonton melihat dia hanya memiliki satu senar dan tetap bermain, mereka berdiri dan berteriak, “Hebat, hebat.”

Setelah tepuk tangan riuh memujanya, Paganini menyuruh mereka untuk duduk. Mereka menyadari tidak mungkin dia dapat bermain dengan satu senar. Paganini memberi hormat pada para penonton dan memberi isyarat pada dirigen orkestra untuk meneruskan bagian akhir dari lagunya itu.

Dengan mata berbinar dia berteriak, “Peganini dengan satu senar.” Dia menaruh biolanya di dagunya dan memulai memainkan bagian akhir dari lagunya tersebut dengan indahnya. Penonton sangat terkejut dan kagum pada kejadian ini.

Hidup kita dipenuhi oleh persoalan, kekuatiran, kekecewaan dan semua hal yang tidak baik. Secara jujur, kita seringkali mencurahkan terlalu banyak waktu mengkonsentrasikan pada senar kita yang putus dan segala sesuatu yang kita tidak dapat ubah.

Apakah anda masih memikirkan senar-senar Anda yang putus dalam hidup Anda? Apakah senar terakhir nadanya tidak indah lagi? Jika demikian, saya ingin menganjurkan jangan melihat ke belakang, majulah terus, mainkan senar satu-satunya itu. Mungkinkanlah itu dengan indahnya. Tuhan akan menolong Anda. (Anonim)

Panah (1)

Suatu ketika, hiduplah seorang bijak yang mahir memanah dan mempunyai tiga orang murid yang setia. Ketiga pemuda tersebut, amatlah tekun menerima setiap pelajaran yang diberikan oleh guru tuanya itu. Mereka bertiga sangat patuh, dan tumbuh menjadi 3 orang pemanah yang ulung. Telah banyak buruan yang mereka dapatkan. Bidikan mereka bertiga sangatlah jitu. Sampai suatu ketika, tibalah saat untuk ujian bagi ketiganya.

Sang guru, kemudian memilih lokasi ujian di sekitar tempat mereka belajar. Pilihannya jatuh pada sebuah pohon besar dengan latar belakang gunung yang indah. Diletakkannya sebuah burung kayu, pada cabang pohon itu. Setelah mengambil jarak beberapa puluh meter, Ia lalu berkata, “Muridku, lihatlah ke arah gunung itu, apa yang akan kau bidik …”

Murid pertama maju ke depan. Busur dan anak panah telah disiapkan. Dengan lantang, ia menjawab, “Aku melihat sebuah batang pohon. Itulah sasaran bidikanku.” Sang guru tersenyum. Ia memberikan tanda, agar muridnya itu menunda bidikannya. Sesaat kemudian, murid yang kedua pun melangkah mendekat. “Bukan. Aku melihat sebuah burung. Itulah sasaran bidikanku. Biarkan aku memanahnya Guru,” seru murid itu, “Nanti, kita bisa memanggang burung yang lezat untuk makan siang.”

Sang guru kembali tersenyum. Diisyaratkan tanda agar jangan memanah dulu. Ia bertanya kepada murid yang ketiga. “Apa yang kau lihat ke arah gunung itu?” Murid ketiga terdiam. Ia mengambil sebuah anak panah. Direntangkannya tali busur, dibidiknya ke arah pohon tadi. Tali-tali itu menegang kuat. “Aku hanya melihat bola mata seekor burung-burungan kayu. Itulah bidikanku.” Diturunkannya busur itu. Tali-tali panah tak lagi meregang. Sang Guru kembali tersenyum, namun kali ini, dengan rasa bangga yang penuh.

“Muridku, sejujurnya, kalian semua layak untuk lulus ujian ini. Namun, ada satu hal yang perlu kalian ingat dalam memanah. Fokus. Sekali lagi, fokus. Tentukan bidikan kalian dengan cermat. Tujuan yang jelas, akan selalu meniadakan hal-hal yang menjadi penganggunya.” Ia kembali melanjutkan, “Sebuah keberhasilan bidikan, akan ditentukan dari tingkat kesulitan yang dihadapinya. Sebuah pohon besar dan burung, tentu adalah sasaran yang paling mudah untuk didapat. Namun, bisa mendapatkan bidikan pada bola mata burung-burungan kayu, itulah yang perlu kalian terus latih.”

Teman, memanah, adalah sama halnya dengan hidup. Kita pun perlu mempunyai fokus. Kita butuh sasaran dan tujuan. Memang, selalu ada banyak godaan-godaan pilihan yang harus dibidik. Selalu ada ribuan sasaran yang akan kita tuju dalam hidup. Ada bidikan yang sulit, dan ada pula bidikan yang sangat mudah.

Namun, kita harus jeli. Kita wajib untuk cermat. Dan, sudahkan kita tentukan tujuan hidup kita dengan jeli dan dengan cermat? Tujuan yang terfokus, mungkin bukanlah hadir pada hal-hal yang besar. Tujuan yang terfokus, kerap ada pada sesuatu yang kecil, yang kadang sering dianggap remeh. Karena itulah mari, bidiklah setiap sasaran itu dengan jeli. Siapkanlah “busur dan panah” hidup kita dengan cermat. (Anonim)

Older Posts »